Jumat, 03 April 2015

Pengendalian penyakit Blast Pada tanaman Padi

Salam Pertanian! kali ini  saya akan berbagi informasi tentang Usaha Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Blas Pada Tanaman Padi. Secara garis besar materi penyuluhan ini berasal dari badan litbang pertanian. Serangan Penyakit Blas cukup menjadi perhatian di lingkup balai penyuluhan angkinang karena  pada MH 2012/2013 lalu, indikasi serangan penyakit ini di persawahan petani cukup banyak.
 Penyakit blas/ bercak belah ketupat pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea secara berlebihan.
Gejala penyakit blas atau bercak belah ketupat adalah pada daun dan pelepah terdapat bercak-bercak berbentuk belah ketupat. Ukuran bercak sebesar 1-1,5 cm X 0,3-0,5 cm. Bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan pinggir berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan lingkungan, kerentanan tanaman dan umur bercak. Jika kondisi lingkungan lembab dan yang terserang adalah tanaman yang rentan maka bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun.
Pyricularia oryzae juga dapat menyebabkan tangkai malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi. Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah.
  • Usaha -Usaha Pencegahan dan Pengendalian meliputi;
  •  Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi, salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT ( Organisasi Penganggu Tumbuhan), antara lain dengan :
  •  a). Penggunaan vaietas tahan & pembenaman jerami.
     Penggunaan varietas baru dan tahan terhadap blas sangat dajurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : 1) Inpari 13; 2) Luk ulo; 3) Silungongo; 4) Batang Piaman; 5) Inpago dan lain-lain. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.
     b) Pemupukan berimbang.
     Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapang.
     c) Waktu tanam yang tepat,
    Pengaturan tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat, keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanamanpadi spesifik lokasi; 2). Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati; a) Fungisida Kimia dianjurkan bagi yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistematik di pasaran misalnya: mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon. ;
  •  Fungisida Nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter sp dan Gliocldium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif tanaman padi.
  • Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan yang sederhana.
    Keberhasilan pengendalian penyakit blas dipengaruhi oleh kemampuan pengaturan lingkungan, terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan penyerapan unsur hara dan tingkat kesuburan tanah.
    Tingkat populasi tanaman mempunyai arti penting yang berhubungan dengan produksi dan perkembangan penyakit blas. Jarak tanam rapat dan jumlah benih yang banyak menciptakan iklim mikro yang optimum untuk perkembangan penyakit blas.
    Pemupukan; Pengaruh pemupukan terhadap penyakit blas tergantung pada kesuburan tanah, jenis dan takaran pupuk, serta varietas yang ditanam. Varietas yang rentan dengan peningkatan takaran pupuk Nitrogen menyebabkan tanaman mudah terserang blas, karena menurunkan kadar Kalium dalam jaringan tanaman. Untuk tanah PMK dianjurkan menggunakan pupuk 60 - 90 kg N, 90 kg P2O5, 60 kg KCl per hektar. Pemberian Nitrogen lebih rendah dapat dilakukan terhadap varietas kurang tahan blas.
    Untuk varietas Lokal, pemupukan optimal dianjurkan 45 kg N, 45 kg P2O5, 30 kg KCl per hektar. Pemberian abu sekam yang mengandung Silikat 300 kg/ha dapat menurunkan kerusakan blas dari 90 % menjadi 48 %.
  • Penggunaan Fungisida; Hampir 30 - 40 % penyakit blas pada padi ditularkan melalui benih, sehingga pada stadium awal vegetative tanaman padi dapat terserang blas. Oleh karena itu, perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida sistemik seperti Pyroquilone 50 WP sebanayak 8 g/kg benih sangat diperlukan. Untuk blas leher diperlukan penyemprotan dengan fungisida Tricyclazole pada saat bunting dan berbunga.
  • Kamis, 26 Maret 2015

    Kelopmpoktani Desa Pesaguan Kiri Kunjungi P4S Angin Mamari

    Para petani desa Pesaguan Kiri Kecamatan Matan Hilir selatan adakan kunjungan ke  Lokasi P4S desa sui Pelang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk melihat secara nyata pengembangan padi dengan sistim sumur pantek. Dengan cara ini sawah dapat ditanami 3 kali dalam satu tahun. Kades pesaguan kiri menjelaskan bahwa ada 12 kelompok didesanya 10 hadir untuk ikut kunjungan ke Desa Sungai Pelang. Ia berharap petani dapat mencontoh pertanaman padi yang di kelola oleh P4S angin mamiri. Ditegaskan bahwa penggunaan sumur  bor pada lahan tadah hujan mampu meningkatkan produktifitas dan intensitas panen. Sebelumnya petani desa ini hanya menanam satu kali dalam satu tahun. Dengan adanya sumur ini ternyata petani dapat meningkatkan intensitas panen dari satu kali menjadi dua kali

    Jumat, 20 Maret 2015

    Tanam padi sistem jajar legowo

    Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani.Salah satu rekomendasi ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo.


    Dalam melaksanakan usaha tanam padi ada bebarapa hal yang menjadi tantangan salah satunya yaitu bagaimana upaya ataupun cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil produksi padi yang tinggi. Namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya.
    Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi.
    PENGERTIAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO
    Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
    Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada dipinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir). Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut :
    1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro.
    2. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong.
    3. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
    4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.
    5. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil.
    PENERAPAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO
    Bersumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten bahwa modifikasi jarak tanam pada sistem tanam jajar legowo bisa dilakukan dengan melihat berbagai pertimbangan. Secara umum jarak tanam yang dipakai adalah 20 X 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 X 22,55 cm atau 25 X 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya. Jarak tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64 seperti varietas ciherang cukup dengan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan untuk varietas padi yang memiliki penampilan lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya 22,5 sampai 25 cm. Demikian juga pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 X 20 cm sedangkan pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak yang lebih lebar misal 22,5 cm atau pada tanah yang sangat subur jarak tanamnya bisa 25 X 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam ini bertujuan agar mendapatkan hasil yang optimal.
    Ada beberapa tipe cara tanam sistem jajar legowo yang secara umum dapat dilakukan yaitu ; tipe legowo (2 : 1), (3 : 1), (4 : 1), (5 : 1), (6 : 1) dan tipe lainnya yang sudah ada serta telah diaplikasikan oleh sebagian masyarakat petani di Indonesia. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian diketahui jika tipe sistem tanam jajar legowo terbaik dalam memberikan hasil produksi gabah tinggi adalah tipe jajar legowo (4:1) sedangkan dari tipe jajar legowo (2 : 1) dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih.
    Jajar legowo (2 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap dua baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris sedangkan jarak tanaman dalam barisan adalah setengah kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (2 : 1) adalah 20 cm (antar barisan) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong).
    Dengan sistem jajar legowo (2 : 1) seluruh tanaman dikondisikan seolah-olah menjadi tanaman pinggir. Penerapan sistem jajar legowo (2 : 1) dapat meningkatkan produksi padi dengan gabah kualitas benih dimana sistem jajar legowo seperti ini sering dijumpai pada pertanaman untuk tujuan penangkaran atau produksi benih. Untuk lebih jelasnya tentang cara tanam jajar legowo (2 : 1) dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.
    sistem tanam jajar legowo (2 : 1)
    Jajar legowo (3 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap tiga baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Modifikasi tanaman pinggir dilakukan pada baris tanaman ke-1 dan ke-3 yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-3) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.
    Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (3 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.
    sistem tanam jajar legowo (3 : 1)
    Jajar legowo (4 : 1) adalah cara tanam padi dimana setiap empat baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Dengan sistem legowo seperti ini maka setiap baris tanaman ke-1 dan ke-4 akan termodifikasi menjadi tanaman pinggir yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke-1 dan ke-4) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan.
    Dengan demikian jarak tanam pada sistem jajar legowo (4 : 1) adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) X 10 cm (barisan pinggir) X 40 cm (barisan kosong) yang lebih jelasnya dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.
    sistem tanam jajar legowo (4 : 1)
    Seperti telah diuraikan di atas bahwa prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Adapun jumlah peningkatan populasi tanaman dengan penerapan sistem tanam jajar legowo ini dapat kita ketahui dengan rumus : 100 % X 1 / (1 + jumlah legowo).
    Dengan demikian untuk masing-masing tipe sistem tanam jajar legowo dapat kita hitung penambahan/peningkatan populasinya sebagai berikut ;
    Jajar legowo (2 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1(1 + 2) = 30 %
    Jajar legowo (3 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 3) = 25 %
    Jajar legowo (4 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 4) = 20 %
    Jajar legowo (5 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 5) = 16,6 %
    Jajar legowo (6 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 6) = 14,29 %
    Tipe sistem tanam jajar legowo (4 : 1) dipilih sebagai anjuran kepada petani untuk diterapkan dalam rangka peningkatan produksi padi karena berdasarkan hasil penilitian yang telah dilakukan dengan melihat serta mempertimbangkan tingkat efisiensi dan efektifitas biaya produksi dalam penggunaan pupuk dan benih serta pengaruhnya terhadap hasil produksi tanaman padi.
    Sistem tanam jajar legowo memang telah terbukti dapat meningkatkan produksi padi secara signifikan meskipun masih terdapat beberapa hal yang mungkin lebih tepat disebut sebagai “konsekuensi untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih tinggi” dibanding disebut sebagai “kelemahan atau kekurangan” dari sistem tanam jajar legowo. Beberapa hal ini diantaranya adalah ;
    1. Sistem tanam jajar legowo akan membutuhkan tenaga dan waktu tanam yang lebih banyak.
    2. Sistem tanam jajar legowo juga akan membutuhkan benih dan bibit lebih banyak karena adanya penambahan populasi.
    3. Pada baris kosong jajar legowo biasanya akan ditumbuhi lebih banyak rumput/gulma.
    4. Sistem tanam jajar legowo yang diterapkan pada lahan yang kurang subur akan meningkatkan jumlah penggunaan pupuk tetapi masih dalam tingkat signifikasi yang rendah.
    5. Dengan membutuhkan waktu, tenaga dan kebutuhan benih yang lebih banyak maka membutuhkan biaya yang lebih banyak juga dibandingkan dengan budi daya tanpa menggunakan sistem tanam jajar legowo.
    Dengan budi daya padi sesuai rekomendasi atau anjuran yang tepat dalam hal ini pengelolaan tanaman terpadu (PTT) maka semua hal diatas dapat tertutupi dari hasil produksi yang didapatkan sehingga ditinjau dari faktor penambahan tenaga kerja dan biaya produksi tidak akan berpengaruh dan tetap lebih menguntungkan dibandingkan tanpa menerapkan sistem tanam jajar legowo.
    Sebagai tambahan bahwa penerapan sistem tanam jajar legowo akan memberikan hasil maksimal dengan memperhatikan arah barisan tanaman dan arah datangnya sinar matahari. Lajur barisan tanaman dibuat menghadap arah matahari terbit agar seluruh barisan tanaman pinggir dapat memperoleh intensitas sinar matahari yang optimum dengan demikian tidak ada barisan tanaman terutama tanaman pinggir yang terhalangi oleh tanaman lain dalam mendapatkan sinar matahari.
    Demikian sedikit yang bisa diuraikan tentang sistem tanam jajar legowo semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Saran dan kritik sangat diharapkan untuk memperbaiki dan mengembangkan tulisan ini sehingga didapatkan daya manfaat yang lebih besar.
    http://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanam-padi-sistem-jajar-legowo/

    Rabu, 11 Maret 2015

    Menuju Pulau sawi

    Pulau kecil di kecamatan Kendawangan ini merupakan salah satu dstinasi wisata yang makin populer. Banayaknya wisatawan yang hibi mancing, treveling, snorkeling dll menjadikan obyek wisata pulau kecil ini menjadi pilihan.

    Selasa, 03 Maret 2015

    Sungai lang mulai coba tanam padi dengan teknologi Haston.

    Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan  Swadaya Angin mamiri 


    mulai coba tanam padi dengan teknologi Haston. Cara ini merupakan yang pertama kalinya di Kabupaten Ketapang. Adapun tanam padi dengan  teknik Hazton ini, bibit yang ingin ditanam satu atau dua batang,tetapi langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman . Untuk itu  sistem pencabutannya dari tempat pembibitan harus hati-hati usahakan akarnya tidak banyak putus, agar tanaman padi tidak stres atau terhenti pertumbuhannya. Dan ternyata dengan  teknik ini bisa dipakai untuk semua varietas dan bisa tumbuh baik meski di lahan basah maupun kering.  Adapun para petani yang menggunakan teknik ini, padi akan masak serentak, karena umumnya adalah tanaman utama bukan anakan sekunder, sehingga akan memudahkan petani karena tidak memanen hingga dua kali.Hasilnya juga akan berlipat karena kalau tanam 1 satu atau  dua batang rumpunnya akan terjadi bisa lebih dari dua batang, at dan bahkan lebih atau bisa saja 40 batang. Dengan haston karena dimulai dengan 10-20 anakan, minimal anakannya adalah 10 batang- 20 batang dan bila beranak akan lebih dari 20 batang. Teknologi ini terbukti dapat melipatkan produksi beberapa kali lipat,

    Rabu, 25 Februari 2015

    Sawah Modern dengan Mekanisasi



    Dinas Pertanian dan Kehawanan Kabupaten Ketapang mulai mengembangkan sawah modern. Bertempat di Komplek Demarea Desa Sungai Awan telah diperagakan  mesin  panen pada  penggolahan sawah modern.  Percontohan ini  untuk mendukung  luasnya lahan pertanian di kab Ketapang sementara  tenaga kerja terbatas. Karena itu  sawah modern dengan alat mekanisasi  pertanian  menjadi salah satu pilihan .  Sebagai conoth Untuk menenam satu hektar  sawah  hanya memerlukan waktu tiga jam untuk menanam padi. Keadaan ini sungguh nyata terjadi jika menggunakan mesin tanam padi. Demikian pula waktu panen, dengan mesin panen,  beberapa jam saja ,  beberapa menit panen,  gabah sudah masuk ke karung langsung  disawah.  Dengan cara tanam tersebut tentu dapat menghemat tenaga kerja, waktu serta yang menggiurkan adalah hasil panen lebih memuaskan. Per hektar mampu menghasilkan 12 ton gabah. Kepala Bidaang Tanaman pagnan pada Dinas Pertanian dan Kehawanan Kabupaten Ketapang  Ir. Ahmad Kumaidi Menjelaskan, di sector pertanian tanaman pangan terutama  padi waktu pengolahan tanah, tanam dan panen sangat memerlukan tenaga kerja yang banyak. Apalagi bila tanam dan panen padi biasanya bersamaan dengan sawah petani lainnya,, saat inilah kita memerlukan mekanisasi pertanian yang dapat menghemat tenaga kerja. Dengan mekanisasi pertanian tak hanya tenaga dan waktu yang di hewat, tetapi juga menjanjikan efisiensi dan keuntungan usahatani yang lumayan. Karena itu mekanisasi menjadi alternatip penting untuk menggarap sawah yang luas di tanah kayong ini.  Mekanisasi  bisa jadi penmgusaha memiliki alat ini dapat menjadi peluang bagus bagi para pemodal  terutama untuk  membantu para petani dan membantu program pemerintah menuju swasembada beras. Jika sekarang petani sulit mendapatkan tenaga-tenaga yang mau bekerja di sawah, maka dengan mesin olah tanam ini semuanya dapat diatasi. Dengan menyewakan pada petani tentu menjadi peluang usaha bagi para petani besar yang lahannya luas, dan tentu saja dengan sekaligus menyiapkan operatornya. Permasalahannya tinggal menghitung berapa harga mesin ini dan kira-kira sampai kapan dapat kembali modal. Perlu analisis usaha yang lebih detail lagi dalam memutuskannya

    Minggu, 08 Februari 2015

    P4S Sungai Pelang Coba Haston

    P4S sungai Pelang  pada musim tanam gadu 2015 ini mulai menyemai bibit padi untuk coba metode Haston. Areal yang ditanam seluas 3 ha dengan varitas padi micongga . Pembina P4s Angin mamiri sungai pelang Hadi Kusuma mangatakan, kita akan coba  membuat demfarm seluas 3 ha, dengan jumlah benih 300 kg semoga cukup untuk 3 ha. Untuk  cara tanam dengan methode 2 baris, legowo. Rencananya kita akan menggunakan varitas unggul impara 2 yang tahan zat besi dan rasa nasi pulen, tapi untuk padi ini di kalbar sulit  di cari. Kita memang memilih varitas padi yang enak (pulen) karena konsumen menginginkan jenis padi ini. Ia berharap demfarm ini berhasil , apalagi dengan methode haston yang baru pertama kali di usahakan. Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan, Swadaya (p4s) diharapkan menjadi contoh bagi petani sekitarnnya, karena petani belajar dengan petani lebih efektip